Perkembangan Mesin Cetak

PERKEMBANGAN MESIN CETAK

Mesin cetak adalah alat untuk memberi tekanan pada permukaan tinta yang menempel pada media cetak (seperti kertas atau kain), sehingga mentransfer tinta. Mesin cetak pertama kali ditemukan oleh Johanes Guttenberg dari Jerman sekitar tahun 1440. Johanes Guttenberg menggunakan mesin cetak kayu yang memiliki prinsip mekanis serupa dengan mesin pertanian. Cara kerjanya adalah menempatkan medium (seperti kertas) menghadap ke bawah pada mesin, setelah sekrup dikencangkan untuk mulai mencetak. Meskipun metode ini telah disempurnakan selama tiga abad terakhir, prinsip dasarnya tetap tidak berubah.

 

Mesin cetak Guttenberg

 

Teknologi cetak berikutnya yang dikembangkan adalah mesin cetak besi yang menggunakan tangan, diperkenalkan di Inggris oleh Lord Stanhope awal abad ke-19, diikuti oleh mesin cetak Kolombia di AS, dan mesin cetak Albion di Inggris. Mesin cetak  ini berbeda dari mesin cetak kayu dari cara yang mereka gunakan, mereka menggunakan mekanisme pengungkit yang memungkinkan mereka menghasilkan lebih banyak kekuatan mencetak dalam satu gerakan dan presisi yang lebih baik. Industrialisasi proses percetakan dilanjutkan dengan pengembangan mesin cetak silinder, ditemukan di London oleh desainer Jerman Koenig dan Bauer. Mesin cetak silinder menekan kertas di atas mesin pada silinder yang bergulir, sebuah prinsip yang menyebabkan mekanisasi. Walaupun mekanisasi dengan cepat menyebar ke sebagian besar industri surat kabar, rumah penerbitan buku masih terus menggunakan mesin cetak yang menggunakan tangan sepanjang abad ke-19.

Mesin cetak mempermudah kerja para pekerja dan mereka bisa menghasilkan hasil yang konsisten dibanding menulis dengan tangan.